level kesempurnaan manusia
Syariat Allah diturunkan sebagai hidayah, petunjuk bagi manusia agar
bisa kembali kepada Rabb-nya dengan selamat. Di dunia, hidayah Allah
menjadi lensa yang harus dipasang di mata dan hati manusia agar mampu
membedakan yang benar dan yang salah. karenanya, keyakinan dan sikap
yang diambil serta seluruh aktivitas harus didasarkan pada citra yang
divisualisasikan lensa hidayah ini. Semakin banyak pengetahuan Islam
dimiliki, semakin jernih pandangan yang dihasilkan. Semakin baik pula
kemampuannya untuk membedakan kebenaran dan kebatilan hingga detail,
bahkan meski kebatilan berkamuflase sekalipun.
Itulah yang disebut al bashirah fid dien, mata hati yang
melihat segala sesuatu dari sudut pandang Islam. Mata hati yang dituntun
cahaya hidayah hingga mampu membedakan yang haq dan yang bathil. Hanya
saja, kemampuan ini belum cukup. Harus ada kekuatan selanjutnya berupa
kekuatan tanfidzud dien, yaitu kemampuan untuk menunaikan tuntutan dari dienul Islam.
Dua hal ini, menurut Ibnul Qayim dalam kitabnya ad Daa’ wa ad Dawa’
(hal. 105-106) merupakan dua aspek pokok untuk menilai kesempurnaan
manusia. Kedudukan manusia di sisi Allah bertingkat-tingkat sesuai kadar
dua aspek ini.
Ada yang mampu melihat kebenaran tapi lemah dalam usaha
menjalankannya, atau mengetahui kebathilan tapi tak kuasa menolak
apalagi mengenyahkannya.
Karenanya, secara global, tipudaya setan juga akan berkisar pada dua
hal ini; menutup segala pintu ilmu tentang Islam dan membelokkan hasrat
manusia dari belajar Islam. Hal ini dilakukan agar pandangan manusia
kabur soal mana yang haq dan mana yang bathil. Kemudian, kalaupun
sebagian lolos dan tetap giat belajar, jalan untuk mengamalkannya
dipersempit dengan godaan, tipudaya sampai tindakan mengahalangi secara
paksa melalui kaki tangannya dari bangsa manusia; penjahat, ketua adat,
pemerintah anti Islam dan sebagainya. Ia pun lemah, tahu banyak tentang
tuntutan syariat, tapi tak banyak yang bisa dilakukan untuk memenuhinya.
Dengan adanya gangguan setan ini, secara global manusia akan terbagi
menjadi empat klasifikasi, sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qoyim,
yaitu;
Pertama, golongan yang paling mulia adalah yang memiliki bashirah sempurna dan kekuatan tanfizh yang paripurna. Mereka adalah para nabi. Bashirah
mereka jernih hingga mampu membedakan al haq dan al bathil secara
maksimal. Mereka juga memiliki kekuatan hati dan mental untuk
melaksanakannya. Inilah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya;
وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yaqub yang
mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS. Shad; 45).
al Aidi adalah kekuatan untuk melaksanakan tuntutan kebenaran dan menegakkan kebenaran. Sedang al Abshar adalah pandangan dalam agama atau pengetahuan.
Kedua, golongan yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan lemah dalam menegakkan tuntutan al haq.
Ini merupakan level kebanyakan manusia. Orang-orang kafir masuk di
level ini dan jumlah mereka tidaklah sedikit. Mereka, kata Ibnul Qoyim,
hanyalah manusia-manusia tak berguna yang mengotori pandangan,
mengeruhkan jiwa, dan bergaul secara intens dengan mereka hanya akan
membuat kita ikut tercela.
Di antara umat Islam, ada juga yang kondisinya hampir mirip dengan
golongan ini. Yaitu orang-orang yang hanya memiliki Islam dalam status
kartu identitasnya dan bukan pada identitas dirinya yang sebenarnya.
Bukankah kita bisa melihat, hari ini tidak banyak yang benar-benar mau
menjadikan agamanya sebagai tolok ukur dalam sikap dan langkah. Seberapa
banyak orang yang selalu mempertanyakan dan mengkhawatirkan apakah yang
dilakukan sudah sesuai syariat? Apakah pekerjaan yang dijalani, konsep
pemikiran yang diyakini, pendidikan yang diajarkan dan berbagai
aktivitas yang dilakukan selaras dengan petunjuk dari Nabi SAW?
Kiranya tidak banyak. Sangat jauh dari contoh para shahabat yang
selalu melihat semua tindakannya dari sudut pandang agama, sampai
hal-hal yang sepele sekalipun.
Ketiga, orang-orang yang memiliki bashirah
dalam agama, mampu mengetahui kebenaran dan kebathilan, tapi lemah dalam
pelaksanaannya apatah lagi mendakwahkannya. Ini merupakan kondisi orang
mukmin yang lemah. Sedang orang mukmin yang kuat jauh lebih dicintai
Allah daripada mukmin yang lemah. Mukmin yang kuat derajatnya akan
berada di bawah para nabi, mereka memiliki bashirah dalam agama dan
cukup mampu melaksanakannya.
Yang terakhir, orang yang memiliki
kekuatan, tekad dan keinginan kuat, tapi lemah pengetahuan agamanya,
tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah. Dan biasanya, apabila
bashirah yang dimiliki buram dan kabur lensanya, manusia akan lebih
mudah dituntun menuju kebathilan. Kemudian, karena memiliki kekuatan
dalam melaksanakan apa yang menurutnya benar meskipun sebenarnya batil,
dia pun akan menjadi budak yang sangat loyal pada kebatilan.
Kita bisa melihat orang-orang yang demikian getol mengamalkan
berbagai hal yang menyimpang dari syariat. Ada yang getol membela
bid’ah, padahal sudah dijelaskan bahwa hal tersebut bukan dari Islam
tapi dari Hindu, misalnya. atau orang-orang yang gigih memperjuangkan
tradisi kejawen dan adat istiadat yang menyimpang dari Islam. Yang lain
habis-habisan mendakwahkan kebathilan berkedok Islam berupa
pemikiran-pemikiran menyimpang yang diadopsi dari para orientalis dan
perusak agama.
Nah, di level manakah kita berada? di manapun itu, asalkan masih bisa
menjumpai matahari terbit, kita masih memiliki kesempatan untuk
memperbaiki diri; menguatkan bashirah dengan terus mendalami Islam dan berusaha secara maksimal menunaikan apa yang menjadi tuntutannya.
Semoga kita dapat menjadi hamba-Nya yang memiliki bashirah yang jernih dan kekuatan untuk menegakkan kebenaran. Amin. Wallahua’lam.(Abu Abdillah)
saya coppast dari
sini :)