3/04/2012

ku tepiskan keraguan dan ku ganti dengan kepastian

menjaga kepastian atau menodainya???
apa coba??? hehe, ini lho...

letto-menyambut janji

ku menanti sang kekasih
dalam sunyi ku bersuara lirih
yang berganti hanya buih
yang sejati tak akan berdalih
lembaran putih telah terpilih
dan demi cinta

reff:ku tepiskan semua keraguan jiwa
dan ku ganti dengan kepastian
hatiku ini yang mulai mengerti
dan berani tuk menyambut janji

kisah cinta yang abadi
takkan ada jika tak kau cari
sering juga hanya mimpi
yang membuatku bertahan di sini
lingkaran putih telah terpilih
dan demi cinta

back to reff 3x

mau???donlot di sini.

jadi gimana???
lembaran putih atau berdalih???

2/25/2012

level kesempurnaan manusia
Syariat Allah diturunkan sebagai hidayah, petunjuk bagi manusia agar bisa kembali kepada Rabb-nya dengan selamat. Di dunia, hidayah Allah menjadi lensa yang harus dipasang di mata dan hati manusia agar mampu  membedakan yang benar dan yang salah. karenanya, keyakinan dan sikap yang diambil serta seluruh aktivitas harus didasarkan pada citra yang divisualisasikan lensa hidayah ini. Semakin banyak pengetahuan Islam dimiliki, semakin jernih pandangan yang dihasilkan. Semakin baik pula kemampuannya untuk membedakan kebenaran dan kebatilan hingga detail, bahkan meski kebatilan berkamuflase sekalipun.
Itulah yang disebut al bashirah fid dien, mata hati yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang Islam. Mata hati yang dituntun cahaya hidayah hingga mampu membedakan yang haq dan yang bathil. Hanya saja, kemampuan ini belum cukup. Harus ada kekuatan selanjutnya berupa kekuatan tanfidzud dien, yaitu kemampuan untuk menunaikan tuntutan dari dienul Islam.
Dua hal ini, menurut Ibnul Qayim dalam kitabnya ad Daa’ wa ad Dawa’ (hal. 105-106) merupakan dua aspek pokok untuk menilai kesempurnaan manusia. Kedudukan manusia di sisi Allah bertingkat-tingkat sesuai kadar dua aspek ini.
Ada yang mampu melihat kebenaran tapi lemah dalam usaha menjalankannya, atau mengetahui kebathilan tapi tak kuasa menolak apalagi mengenyahkannya.
Karenanya, secara global, tipudaya setan juga akan berkisar pada dua hal ini; menutup segala pintu ilmu tentang Islam dan membelokkan hasrat manusia dari belajar Islam. Hal ini dilakukan agar pandangan manusia kabur soal mana yang haq dan mana yang bathil. Kemudian, kalaupun sebagian lolos dan tetap giat belajar, jalan untuk mengamalkannya dipersempit dengan godaan, tipudaya sampai tindakan mengahalangi secara paksa melalui kaki tangannya dari bangsa manusia; penjahat, ketua adat, pemerintah anti Islam dan sebagainya. Ia pun lemah, tahu banyak tentang tuntutan syariat, tapi tak banyak yang bisa dilakukan untuk memenuhinya.
Dengan adanya gangguan setan ini, secara global manusia akan terbagi menjadi empat klasifikasi, sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qoyim, yaitu;
Pertama, golongan yang paling mulia adalah yang memiliki bashirah sempurna dan kekuatan tanfizh yang paripurna. Mereka adalah para nabi. Bashirah mereka jernih hingga mampu membedakan al haq dan al bathil secara maksimal. Mereka juga memiliki kekuatan hati dan mental untuk melaksanakannya. Inilah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya;
وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yaqub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS. Shad; 45).
al Aidi adalah kekuatan untuk melaksanakan tuntutan kebenaran dan menegakkan kebenaran. Sedang al Abshar adalah pandangan dalam agama atau pengetahuan.
Kedua, golongan yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan lemah dalam menegakkan tuntutan al haq. Ini merupakan level kebanyakan manusia. Orang-orang kafir masuk di level ini dan jumlah mereka tidaklah sedikit. Mereka, kata Ibnul Qoyim, hanyalah manusia-manusia tak berguna yang mengotori pandangan, mengeruhkan jiwa, dan bergaul secara intens dengan mereka hanya akan membuat kita ikut tercela.
Di antara umat Islam, ada juga yang kondisinya hampir mirip dengan golongan ini. Yaitu orang-orang yang hanya memiliki Islam dalam status kartu identitasnya dan bukan pada identitas dirinya yang sebenarnya. Bukankah kita bisa melihat, hari ini tidak banyak yang benar-benar mau menjadikan agamanya sebagai tolok ukur dalam sikap dan langkah. Seberapa banyak orang yang selalu mempertanyakan dan mengkhawatirkan apakah yang dilakukan sudah sesuai syariat? Apakah pekerjaan yang dijalani, konsep pemikiran yang diyakini, pendidikan yang diajarkan dan berbagai aktivitas yang dilakukan selaras dengan petunjuk dari Nabi SAW?
Kiranya tidak banyak. Sangat jauh dari contoh para shahabat yang selalu melihat semua tindakannya dari sudut pandang agama, sampai hal-hal yang sepele sekalipun.
Ketiga, orang-orang yang memiliki bashirah dalam agama, mampu mengetahui kebenaran dan kebathilan, tapi lemah dalam pelaksanaannya apatah lagi mendakwahkannya. Ini merupakan kondisi orang mukmin yang lemah. Sedang orang mukmin yang kuat jauh lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Mukmin yang kuat derajatnya akan berada di bawah para nabi, mereka memiliki bashirah dalam agama dan cukup mampu melaksanakannya.
Yang terakhir, orang yang memiliki kekuatan, tekad dan keinginan kuat, tapi lemah pengetahuan agamanya, tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah. Dan biasanya, apabila bashirah yang dimiliki buram dan kabur lensanya, manusia akan lebih mudah dituntun menuju kebathilan. Kemudian, karena memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang menurutnya benar meskipun sebenarnya batil, dia pun akan menjadi budak yang sangat loyal pada kebatilan.
Kita bisa melihat orang-orang yang demikian getol mengamalkan berbagai hal yang menyimpang dari syariat. Ada yang getol membela bid’ah, padahal sudah dijelaskan bahwa hal tersebut bukan dari Islam tapi dari Hindu, misalnya. atau orang-orang yang gigih memperjuangkan tradisi kejawen dan adat istiadat yang menyimpang dari Islam. Yang lain habis-habisan mendakwahkan kebathilan berkedok Islam berupa pemikiran-pemikiran menyimpang yang diadopsi dari para orientalis dan perusak agama.
Nah, di level manakah kita berada? di manapun itu, asalkan masih bisa menjumpai matahari terbit, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri; menguatkan bashirah dengan terus mendalami Islam dan berusaha secara maksimal menunaikan apa yang menjadi tuntutannya.
Semoga kita dapat menjadi hamba-Nya yang memiliki bashirah yang jernih dan kekuatan untuk menegakkan kebenaran. Amin. Wallahua’lam.(Abu Abdillah)
saya coppast dari sini :)

2/21/2012

kopi versus air putih
 versus


 siapa pemenangnya ???

to be continued...